November 2007


Tragis, menyesakkan, dan entah apalagi kata yang pantas disematkan melihat nasib buruk Inggris yang untuk ke-2 kalinya tidak lolos ke pentas sepak bola paling akbar di Benua Biru, Piala Eropa. Tragis karena Inggris dihuni pemain-pemain hebat penuh talenta dan teruji di kompetisi lokal yang super ketat dan dahsyat. Nasib kali ini seolah mengiulang sejarah hitam sepak bola Inddris yang tidak mampu lolos dari kubangan kualifikasi pada Piala Dunia belumnya, terakhir Piala Dunia 1990 Italia.

Apa yang salah dengan sepak bola Inggris? Nenek moyang dan asal muasal sepak bola modern?. Tidak lah fair jika Steve Mcclaren di jadikan kambing hitam kegagalan Inggris kali ini. Mclaren boleh disebut hanya ketiban sialnya saja. Faktanya meski dilatih Sven Goran Eriksson, Inggris tetap saja tidak mampu tampil maksimal di Piala Dunia terakhir, Jerman 2006. Namun, untuk melacak akar kegagalan Inggris harus dikupas tidak saja pada kemampuan manager, tetapi juga klub, pembinaan pemain muda dan tentu saja kompetisi.  Yang haruis ditekankan bahwa kompetisi adalah kawah candradimuka penggemblengan pemain-pemain timnas untuk pada saatnya nanti siap berlaga di even internasional. Ketika prestasi timnas tidak paralel dengan hasil kompetisi, maka menjadi pertanyaan besar  bagi kompetisi EPL yang dianggap terbaik di dunia saat ini….

Apapun itu, tim Inggris kini menjadi tim lelucon sepak bola terbesar abad 21….

Ada apa dengan AC Milan ?. Juara Liga Champions 2007 ini tampil bak sekumpulan orang-orang separuh baya yang baru belajar bermain bola menghadapi anak-anak muda. Tidak ada kualitas tim jura apalagi mental juara – ketika Milan main di San Siro. Buktinya jelas, dari delapan lima pertandingan kandang Milan hanya mampu meraih satu kali kemenangan itupun first match, setelah itu kalah atau paling banter seri.

Tidak fair menyalahkan strategi tim-tim yang bertandang ke San Siro sebagaimana sering dikeluhkan Ancelotti “semua tim yang bermain di San Siro melawan kami menerapkan pola bertahan…”. Justru adalah tugasnya untuk menerapkan taktik dan stretegi counter defensif…

Faktor usia pemain Milan yang rata-rata berumur 28-30 tahun patut juga menjadi biang dari semua ambrolnya prestasi Milan di awal musim ini. Lihat saja faktanya. Dari sekian gol yang dimasukkan ke gawang Milan di San Siro maupun tandang semuanya dari skema serangan balik (counter attack) yang cepat dengan memanfaatkan kelemahan pemain bertahan Milan yang naik membantuserangan dan …lamban. Pertandingan terakhir Milanvs Cagliari (26/11/07) menjadi bukti nyata validitas tesis awal kita, bahwa musim ini Milan benar-benar menajdi jago tandang. Tertinggal lebih dulu di menit ke-4, namun Milan mampu menyamakan kedudukan melalui gol Gilardinho dan memastikan membawa pulang 3 angka melalui gol sensasional Pirlo 6 menit sebelum peluit akhir berbunyi….

(to be continued)