January 2008


Dunia teknologi dewasa ini berkembang sangat cepat, bahkan lebih cepat dibandingkan kehidupan manusia. Komputer contohnya, sejak kehadirannya yang pertama telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan ummmat manusia sendiri. Yang lebih mengkhawatirkan, manusia menjadi tergantung dengan ‘makhluk’ ini.

Sejak itupula, kehadiran Antivirus (atau obat virus..?) menjadi inheren dalam setiap unit PC. Berbagai macam produk antivirus diluncurkan dan berlomba-lomba merebut pangsa pasar yang tak pernah sepi dan jenuh. Ditengah persaingan itu, tampaknya konsumen di Indonesia lebih menyukai jenis Antivirus yang bisa dipakai percuma alias gratiss. Dari pengamatan sekilas, setidaknya tiga merk AVG, Avira dan McAffe yang menjadi idola para users pemula karena gamapang dipakai/up date dan gratis. Untuk update AVG manual website AVG Free menyediakannya di http://free.grisoft.com/softw/70free/update/u7avi1244gg.bin. Sedangkan Avira menyediakannya di http://www.avira.de/en/support/support_downloads.html dalam bentuk IVDF bagi yang menggunakan os Win XP.

Hemat saya anti virus apapun yang kita gunakan bukan masalah, yang terpenting adalah meng-up date anti virus yang kita gunakan secara periodik dan terus menerus untuk menjaga PC dari serangan virus yang tumbuh semakin cepat dan variatif.

Babak perdelapan besar Liga Indonesia musim 2007/2008 ini tercoreng (kembali). Adalah pertandingan Aremania vs Persiwa Wamena yang menjadi sumbu perjalanan sepak bola Indonesia tahun ini. Aremania yang memenuhi hampir 80% kursi Stadion Brawijaya tempat pertandingan berlangsung, merengksek masuk dan menganiaya wasit serta asistennya pada menit ke-70 karena tidak puas atas keputusan wasit Djajat Sudradjat yang menganulir 3 gol Arema. Protes yang berujung pada tawuran massal. Bangku stadion, Bench pemain kedua kesebelasan, Jaring gawang dan papan iklan adalah korban-korban tak bersalah yang sekali lagi harus menjadi tumbal kebringasan supporter sepakbola Indonesia.

Komdis PSSI memang bertindak cepat dengan menghukum Aremania tidak boleh menonton pertandingan yang diselenggarakan dibawah bendera PSSI selama 3 tahun di Seluruh Indonesia. Hukuman yang ditolak mentah-mentah Aremania. Bagi Aremania, pemicu kerusuhan bukan mereka tetapi Djajad Sudradjat-sang pengadil- yang telah bertindak tidak adil sehingga memancing emosi aremania di Stadion. Yang lebih ekstrim lagi, Aremania menganjurkan pengurus Arema Malang untuk membubarkan diri dan mundur dari Liga Indonesia.

Tampaknya, sepakbola Indonesia tidak pernah dewasa. Kerusuhan demi kerusuhan selalu membayangi setiap pertandingan sepak bola. Kenyamanan yang diharapkan di Stadion ketika menonton pertandingan langsung begitu mahal.Adrenalin yang mengalir deras ketika melihat aksi-aksi dilapangan, turun seketika karena perasaan was-was dan takut…

Hukuman yang dijatuhkan Komdis PSSI pada Aremania tidak akan menyelesaikan persoalan dasar di cabang olah raga terbesar di dunia ini. Disamping itu, keteguhan PSSI untuk memperbaiki sepak bola Indonesia masih harus diuji, akankah nasib sanksi ini akan kembali sama seperti sanksi Persebaya 3 musim yang lalu, ketika dihukum Komdis degradasi ke divisi 2 dan saksi 2 tahun lalu turun hanya menjadi degradasi ke divisi 1 ?, masih lama waktu untuk menjawab.

Komentar menarik disampaikan pemimpin Aremania “kami telah dewasa, tapi kalau 3 gol dianulir yah…siapa juga yang tahan…” (ANTVSport). Dengan kejadian itu, benarkah supporter di Indonesia sudah dewasa ?.