Menyakitkan, menyesakkan ! entah kata apalagi yang tepat untuk menggambarkan kondisi Milan saat ini. Di kandang sendiri, San Siro harus mengakhiri pertandingan dengan kekalahan Atalanta 1-2, tim yang tidak pernah beranjak ke papan atas musim ini. Kekalahan ini tidak saja menampar muka Ancelotti karena peratndingan itu di saksaksikan Sacchi dan Cesare Maldini, tetapi peringatan serius untuk Milanisti agar siap-siap menyaksikan Milan di Kompetii kelas dua Liga Eropa musim depan alias UEFA Cup.

Bagaimana tidak, kekalahan ini alih-alih menipiskan selisih poin dengan Fiorentina, malah membuat Milan melorot ke peringkat 6 kelasemen sementara. Kesuksesan Udinese mengalahkan Fiorentina menjadi biang keladinya sekaligus menaikkan posisi mereka ke peringkat 5 klasemen dan membuka peluang untuk bersaing dengan Fiorentina untuk tiket Liga Champion musim depan.

Melihat prestasi Milan musim ini yang berantakan, ironisnya para petinggi Milan bukan sibuk mencari pemain belakang namun sebaliknya mencari bomber baru. well, jangan sampai penyakit Madrid beberapa musim lalu yang sibuk mengoleksi penyerang dan melupakan pemain bertahan menjangkiti Milan musim transfer nanti. Jik ini terjadi, maka ini menjadi titik balik kemerosotan Milan. Implikasinya bukan tidak mungkin anak emas Milan, Kaka tergiur dengan tawaran tim-tim besar Eropa lainnya- terutama Madrid.

Pengalaman musim 1997-1998 tampaknya tidak menjadi cermin. Masih segar diingatan ketika Milan yang masih diperkuat pemain-pemain gaek semisal Baressi, Sebastiano Rossi, Baggio dan Boban di bantai Juventus di San Siro.

Sudah waktunya milan melakukan Revolusi. ukan hanya pemain, tetapi juga skema permainan dan bila perlu pelatih.