Perhelatan sepak bola nasional usai sudah. Puncaknya adalah kerusuhan dan aksi Walk Out Persipura dalam gelaran terakhir sepak bola nasional musim kompetisi 2008/2009, final Copa Dji Sam Soe antara Sriwijaya FC vs Persipura Jayapura. Seluruh pecinta sepak bola nasional sepakat, adrenalin yang begitu tinggi menyaksikan pertandingan final super big match SFC vs Persipura turun di titik nadir berganti kegeraman menyaksikan opera sabun di menit ke-59 itu. Jutaan pasang mata yang menonton di stadion dan televisi pantas mengumpat melihat relaitas di lapangan rumput itu. Bahkan, isu Dji Sam Soe akan menarik diri sebagai sponsor utama Copa Indonesia musim depan, patut dimengerti.
Atraksi pembuka yang spektakuler dan siraman kembang apai dilengkapi laser menjadi puncak dari perhelatan Piala Indonesia musim ini. Namun apa lacur, harapan yang begitu tinggi untuk menyaksikan pertandingan yang berkualitas harus terhenti di menit ke-59. Aksi WO Persipura di warnai hands ball Tsimi Jaques. Sontak pemain persipuyra lainnya melakukan protes keras, bahkan terlihat mendorong wasit Purwanto. Akibatnya Ernest Jeremiah di kartu merah. Aksi ini di balas rekasi lebih keras, bahkan terlihat usaha pemain-pemain dan official persipura berusaha merobohkan banch pemain cadangan. Patut disesalkan.
Koreksi pertama pantas dialamatkan ke PSSI dan BLI nya yang tidak pernah becus mengurus pertandingan dan belajar dari kejadian-kejadian yang lalu. Dalam hal ini tentu saja penetapan tempat pertandingan final. Betul bahwa tempat pertandingan telah disepakati berbulan-builan sebelum final dan oleh semua tim (artinya pada saat penetapan stadion jakabaring, belkum diketahui siapa melawan siapa pada partai final). Persoalannya, mengapa tidak terfikir untuk menetapkan stadion yang layak dan tidak menjadi kandang salah satu tim semi-finalis?. Bukankah stadion bertandar internasional bukan hanya di Palembang?. Solo, misalnya sangat layak menyelenggarakan final copa. Disamping netral, kondisi stadion juga berstandar internasional.
Koreksi kedua, mari kita sematkan ke wasit, khususnya Badan Wasit Sepak Bola Indonesia (BWSI). Kompetisi Liga Indonesia telah berusia lebih dari 15 tahun. Usia yang cukup senior untuk ukuran karir di sepak bola. Wasit, menjadi persoalan klasik dan bahkan belum selesai hingga saat ini. Wasit pula yang kerap menjadi kambing hitam kerusuhan dan kekalahan sebuah tim. Pertanyaanya, mengapa BWSI tidak melakukan upaya lebih keras memperbaiki mutu wasit sepak bola kita?. Jika kita berkaca pada negara asia lain, kita pantas menundukkan kepala. Malaysia saja sudah mampu meng-expor wasit di beberapa pertandingan internasional, walupun tingkat Asia. Sedangkan Indoneisa baru bisa mengirim wasit Jimmy menjadi Inspektur pertandingan. Saya tidak bisa membayangkan PSSI harus mengimpor wasit dari AFC untuk memimpin parti-partai penting seperti awal Liga Indonesia di mulai.
Koreksi ketiga, tentu saja kita berikan pada tim Persipura Jayapura. Suka tidak suka, ketika kita menyepakati sepak bola adalah permainan universal dan karenanya memiliki aturan yang universal, maka kita harus mematuhinya. Aturan sepak bola di belahan manapun di dunia ini sangat normatif, dimana wasit adalah ‘tuhan’ di lapangan yang harus di dengar dan dipatuhi. Kebenaran sepanjang pertandingan adalah kebenaran wasit seorang. Kebenaran wasit dilapangan adalah apa yang dilihat dan didengar. Bahwa kemudian muncul ketidakpuasan, itu hal wajar. Tidak mungkin setiap orang harus dipuaskan oleh keputusan wasit. Namun, bukankah ada mekanisme menyalurkan ketidakpuasan?. Tentu masih segar di ingatan kita, ketika Chelsea merasa sangat dirugikan oleh keputusan wasit saat semi final Champion kontra Barcelona. Versi chelsea mereka layak mendapat setidaknya dua kali pinalty. Ketidakpuasan pemain-pemain chelsea juga berimbas pada protes berlebihan pada wasit setelah pertandingan usasi. Tetapi ingat, tidak ada satupun pemain chelsea maupun officialnya yang menyerbu wasit di lapangan dan walk out. Pelajaran itu tampaknya sudah dilupakan. Kita selalu mencari pembenaran atas tindakan kita, seraya berkata: “ah itu kan di eropa…”, “..wasit di Indonesia kan beda, bisa dibeli…”, dan pernyataan lain yang mencari kambing hitam.
Tanpa membela siapapun, penghormatan harus kita berikan [ada Sriwijaya FC karena mampu mempertahankan gelar Copa Dji Sam Soe. Toh sebelum terjadi keributan mereka unggul 1-0 melalu gol bersih. Kita juga harus bijak melihat saudara-sauadara kita, persipura, yang merasa dikecewakan. Jangan sampai di pertandingan sepak bola pun mereka diperlakukan tidak adil. Bagaimanapun, harga sebuah kebangsaan lebih bernilai dibandingkan harga sebuah juara kompetisi. Juara sejati adalah tim yang mengakui kekalahannya. Bravo sepak bola Indonesia!. (b-arok)
Kaki Merapi, 2 Juli 2009. 15.10 WIb