Tiada hari tanpa statement yang memanaskan telinga. Mungkin itu yang tampak dari seluruh pemberitaan media di negeri ini. Perang opini dan wacana yang bertujuan membentuk citra diri seorang calon presiden/wakil presiden dalam kontestasi pilpres, 9 juli nanti, terlihat begitu menjemukan. Saling klaim dan tuding seolah telah menjadi strategi baku yang disusung tim sukses masing-masing pasangan. Media kemudian menempati posisi sentral dalam pembentukan wacana dan citra diri capres/cawapres.
Media, sekali lagi menunjukkan kekuasaannya yang tidak terbatas. Dalam sekejap dengan ketajaman pena seorang jurnalis, ia mampu menggiring opini publik dan membentuk karakter seseorang, dan sebaliknya dalam tempo hitungan singkat ia juga mampu menghancurkan karakter seseorang. Tengok saja kasus mantan ketua KPK yang terseret kasus pembunuhan Nasruddin Zulkarnain. Dalam waktu singkat, dugaan Antasari sebagai otak pembunuhan nasruddin karena cinta segitiga, seolah telah menjadi ‘kebenaran’ dan terus menerus menjadi headlines hampir seluruh media nasional. Asas praduga tak bersalah menjadi bias.
Dalam alam negara demokrasi, media yang bebas dan independen, tidak terbantahkan menjadi pilar utama. Tanpanya, demokrasi menjadi terbelenggu. Namun, kebebasan ini seolah menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, seseorang dalam tempo singkat diangkat setinggi langit menjadi pahlawan, dan disisi lain dalam hitungan detik seseorang bisa terbenam dan menjadi penjahat.
Kasus Manohara misalnya, tiba-tiba menjadi berita yang menyita perhatian jutaan kepala di negeri ini. Bahkan, seorang kepala negara dan wakilnya sampai menyempatkan diri memberi keterangan pers karena oleh beberapa media dianggap sebagai bukan lagi persoalan rumah tangga biasa, tetapi telah menyentuh wilayah hubungan diplomatik antar negara. Ya, Manohara dalam tempo sesingkat-singkatnya telah menjadi buah bibir dan selebriti yang mungkin paling terkenal saat ini.
Tengok pula kasus Prita Mulyasari. Seorang ibu rumah tangga yang dijebloskan ke penjara karena dianggap mencemarkan nama baik RS Omni Internasional hanya karena ia mengirim email pribadi tentang perlakuan tidak beres yang diterimanya dari RS itu telah menyita perhatian publik. Bahkan kasusnya telah menjadi isu nasional. Tak urung ketiga capres menyempatkan diri memberi perhatian –meski dengan kapasitas yang masing-masing berbeda.
Berbagai penggalan diatas menunjukkan betapa berkuasanya media. Dalam sekejap ia mampu mencuci otak para penontonnya, pendenganya dan pembacanya. Menggiring mereka menyakini ‘kebenaran’ yang diusung media. Media menjadi super power. Sebagai bangsa yang masih belajar tentang arti sebuah kebebasan pers, tentu kita berharap media di negeri ini tetap menjadi kekuatan moral yang mampu mengawal bangsa ini keluar dari krisis. Dan pada akhirnya menjadi media kontrol kekuasaan dan media pendidikan politik untuk kemajuan bangsa ini. (b-arok).
Semenanjung Merapi, 01 Juli 09/ 01.36WIB