Sepakbola


Ucapan selamat pantas disematkan pada Diego “Tangan Tuhan” Maradona. Ditengah kegalauan para pecinta sepak bola menanti kepastian lolos, tim Tango membuktikan kekuatan mental bisa mengalahkan segalanya. Terlepas dari suguhan permainan yang sangat tidak layak dan adanya “bantuan” dari kebodohan Caceres, kemenangan tipis Argentina 1-0 atas tuan rumah Uruguay memastikan mereka lolos otomatis ke Piala Dunia Afsel 2010. Kemengan ini sekaligus juga mengirim tuan rumah ke Play Off Piala Dunia menghadapi peringkat keempat zona Amerika Utara (CONCACAF), Kosta Rika.

Kemengan Argentina tidak dicapai dengan mudah. Bermain di bawah tatapan 60.000 pasang mata pendukung tuan rumah, Tim Tango terlihat tegang. Sang pelatih, Diego, bahkan tidak beranjak dari pinggir lapangan. Bahkan tercatat 2 peluang bersih dimiliki Uruguay. Sayang, kurang tenangnya suarez membuat peluang itu sirna. Keberuntungan Argentina terjadi di menit 85, saat Caceres harus meninggalkan lapangan karena kartu merah kedua. Tendangan bebas yang diambil jenius oleh Messi dengan mengumpan ke  Veron menciptakan ‘kekacauan’ di kotak pinalti Uruaguay. Bonetti pemain yang baru 10 menit masuk memanfaatkan bola liar dengan tendangan pelan terarah ke pojok gawang Uruguay. Gol semata wayang ini pun memastikan The Tango Boy’s lolos ke Piala Dunia tahun depan.

Hasrat pecinta sepak bola menyaksikan Messi, Tevez dan tentu saja kiprah Sang Legenda Hidup dipinggir lapangan menjadi kenyataan. Kemengan ini tidak saja menyelamatkan kursi maradona yang semakin panas, tetapi juga menjadi kemengan pertama Argentina atas Uruguay di Montevideo selama 30 tahun. Wow.

Lolosnya Argentina tentu menjadi penantian menarik melihat kiprah para pelatih dipinggir lapangan. Para pelatih terbaik dunia, legenda sepak bola berkumpul. Menarik jika Inggris bertemu Argentina. Tidak saja pertarungan yang penuh nuansa politis akan terjadi, tetapi juga pertarungan antara dua legenda hidup: legenda pemain sepak bola dan calon legenda pelatih terhebat sepanjang masa, nah…

Perhelatan sepak bola nasional usai sudah. Puncaknya adalah kerusuhan dan aksi Walk Out Persipura dalam gelaran terakhir sepak bola nasional musim kompetisi 2008/2009, final Copa Dji Sam Soe antara Sriwijaya FC vs Persipura Jayapura. Seluruh pecinta sepak bola nasional sepakat, adrenalin yang begitu tinggi menyaksikan pertandingan final super big match SFC vs Persipura turun di titik nadir berganti kegeraman menyaksikan opera sabun di menit ke-59 itu. Jutaan pasang mata yang menonton di stadion dan televisi pantas mengumpat melihat relaitas di lapangan rumput itu. Bahkan, isu Dji Sam Soe akan menarik diri sebagai sponsor utama Copa Indonesia musim depan, patut dimengerti.

Atraksi pembuka yang spektakuler dan siraman kembang apai dilengkapi laser menjadi puncak dari perhelatan Piala Indonesia musim ini. Namun apa lacur, harapan yang begitu tinggi untuk menyaksikan pertandingan yang berkualitas harus terhenti di menit ke-59. Aksi WO Persipura di warnai hands ball Tsimi Jaques. Sontak pemain persipuyra lainnya melakukan protes keras, bahkan terlihat mendorong wasit Purwanto. Akibatnya Ernest Jeremiah di kartu merah. Aksi ini di balas rekasi lebih keras, bahkan terlihat usaha pemain-pemain dan official persipura berusaha merobohkan banch pemain cadangan. Patut disesalkan.

Koreksi pertama pantas dialamatkan ke PSSI dan BLI nya yang tidak pernah becus mengurus pertandingan dan belajar dari kejadian-kejadian yang lalu. Dalam hal ini tentu saja penetapan tempat pertandingan final. Betul bahwa tempat pertandingan telah disepakati berbulan-builan sebelum final dan oleh semua tim (artinya pada saat penetapan stadion jakabaring, belkum diketahui siapa melawan siapa pada partai final). Persoalannya, mengapa tidak terfikir untuk menetapkan stadion yang layak dan tidak menjadi kandang salah satu tim semi-finalis?. Bukankah stadion bertandar internasional bukan hanya di Palembang?. Solo, misalnya sangat layak menyelenggarakan final copa. Disamping netral, kondisi stadion juga berstandar internasional.

Koreksi kedua, mari kita sematkan ke wasit, khususnya Badan Wasit Sepak Bola Indonesia (BWSI). Kompetisi Liga Indonesia telah berusia lebih dari 15 tahun. Usia yang cukup senior untuk ukuran karir di sepak bola. Wasit, menjadi persoalan klasik dan bahkan belum selesai hingga saat ini. Wasit pula yang kerap menjadi kambing hitam kerusuhan dan kekalahan sebuah tim. Pertanyaanya, mengapa BWSI tidak melakukan upaya lebih keras memperbaiki mutu wasit sepak bola kita?. Jika kita berkaca pada negara asia lain, kita pantas menundukkan kepala. Malaysia saja sudah mampu meng-expor wasit di beberapa pertandingan internasional, walupun tingkat Asia. Sedangkan Indoneisa baru bisa mengirim wasit Jimmy menjadi Inspektur pertandingan. Saya tidak bisa membayangkan PSSI harus mengimpor wasit dari AFC untuk memimpin parti-partai penting seperti awal Liga Indonesia di mulai.

Koreksi ketiga, tentu saja kita berikan pada tim Persipura Jayapura. Suka tidak suka, ketika kita menyepakati sepak bola adalah permainan universal dan karenanya memiliki aturan yang universal, maka kita harus mematuhinya. Aturan sepak bola di belahan manapun di dunia ini sangat normatif, dimana wasit adalah ‘tuhan’ di lapangan yang harus di dengar dan dipatuhi. Kebenaran sepanjang pertandingan adalah kebenaran wasit seorang. Kebenaran wasit dilapangan adalah apa yang dilihat dan didengar. Bahwa kemudian muncul ketidakpuasan, itu hal wajar. Tidak mungkin setiap orang harus dipuaskan oleh keputusan wasit. Namun, bukankah ada mekanisme menyalurkan ketidakpuasan?. Tentu masih segar di ingatan kita, ketika Chelsea merasa sangat dirugikan oleh keputusan wasit saat semi final Champion kontra Barcelona. Versi chelsea mereka layak mendapat setidaknya dua kali pinalty. Ketidakpuasan pemain-pemain chelsea juga berimbas pada protes berlebihan pada wasit setelah pertandingan usasi. Tetapi ingat, tidak ada satupun pemain chelsea maupun officialnya yang menyerbu wasit di lapangan dan walk out. Pelajaran itu tampaknya sudah dilupakan. Kita selalu mencari pembenaran atas tindakan kita, seraya berkata: “ah itu kan di eropa…”, “..wasit di Indonesia kan beda, bisa dibeli…”, dan pernyataan lain yang mencari kambing hitam.

Tanpa membela siapapun, penghormatan harus kita berikan [ada Sriwijaya FC karena mampu mempertahankan gelar Copa Dji Sam Soe. Toh sebelum terjadi keributan mereka unggul 1-0 melalu gol bersih. Kita juga harus bijak melihat saudara-sauadara kita, persipura, yang merasa dikecewakan. Jangan sampai di pertandingan sepak bola pun mereka diperlakukan tidak adil. Bagaimanapun, harga sebuah kebangsaan lebih bernilai dibandingkan harga sebuah juara kompetisi. Juara sejati adalah tim yang mengakui kekalahannya. Bravo sepak bola Indonesia!. (b-arok)

Kaki Merapi, 2 Juli 2009. 15.10 WIb

Perjalanan panjang Indonesian Super League (ISL) musin kompetisi 2008-2009 berakhir sudah. Tim terbaik telah ditetapkan. Tim Mutiara Hitam dari ujung timur Indonesia berhasil menggondol gelar ISL musim ini setelah unggul jauh atas lawan-lawannya, tidak terkecuali juara bertahan Sriwijaya FC dan tim ibukota yang ambisius, Persija Jakarta. Tidak hanya juara ISL, sukses Persipura juga diikuti dengan sukses pemain langganan timnas Boaz Salossa sebagai Pemain Terbaik ISL 2008/2009 dan Top Scorer bersama Cristian Gonzalez (Persib Bandung) dengan torehan 28 gol.

Perjalanan kompetisi sepak bola di Indonesia memang tidak pernah sepi dari drama. Drama demi drama selalu mewarnai sejarah perjalanan panjang liga sepak bola di negeri ini. Kerusuhan, baik antar suporter, antar pemain, official dan pemain dengan wasit mungkin telah menjadi cerita biasa. Drama terbesar kompetisi musim ini tentu saja pelarangan bertanding sejumlah klub, khususnya yang ber home base di Pulau Jawa karena adanya even politik nasional, Pemilu Legislatif. Ya, ajang politik ini menyebabkan molornya jadwal kompetisi, pembengkakan biaya operasional klub hingga adanya ‘ide gila’ dari PSSI ‘sentralisasi sisa pertandingan’. Tak banyak memang yang bisa di perbuat dengan kondisi ini, tetapi jelas klub-klub yang punya dana pas-pasan pasti makin tercekik.

Drama penundaan kompetisi akibat pemilu sesungguhnya bukan kali pertama terjadi di negeri ini. Setiap lima tahun sekali, tepat pada tahun pemilu, kondisi yang sama sudah pasti akan terjadi. Pertanyaannya, mengapa kompetisi sepak bola selalu molor dari jadwal yang telah ditetapkan?

Hasil pertandingan sepak bola adalah misteri terbesar dalam hidup ini. Pameo bola itu bundar menjadi kebenaran dalam dunia bola. Di Indonesia, misteri terbesar bukanlah pada skor akhir sebuah pertandingan, tetapi apakah musim kompetisi akan selesai tepat waktu. Aneh memang, tetapi itulah realitasnya. Sebagai pengelola sepak bola tertinggi di negeri ini, PSSI memang harus mau dan sanggup bertanggungjawab. Tetapi, menyalahkan PSSI saja tidak akan cukup dan kemudian menyelesaikan masalah. Mungkin, dengan berat hati kita harus mengakui bahwa kita semua baru sebatas penggemar sepak bola, bukan penikmat rela melepaskan nilai-nilai fanatisme klub, daerah dan unsur-unsur primordial lainnya untuk sebuah keindahan permainan sepak bola.

Terlepas dari carut marutnya penyelenggaraan kompetisi PSSI musim ini, kita patut berbangga hati, juara sejati telah terpatri. Ya, Persipura membuktikan dirinya sebagai tim terbaik dengan mengalahkan 17 kompetitor lainnya musim ini. Apakah Persipura akan mengikuti jejak Sriwijaya FC musim lalu dengan gelar ganda di kompetisi domestik?, kita tunggu pertarungan dua tim juara di Final Copa Dji Sam Soe, minggu 28 juni 2009 nanti antara Persipura vs Sriwijaya FC. Sementara juara bertahan Sriwijaya FC harus menerima kenyataan kehabisan bensin di tengah jalan. Ketatnya jadwal pertandingan di ISL dan harus bermain di tiga kompetisi sekaligus: ISL, AFC Champions League dan Copa Dji Sam Soe. Tentu kita beharap Persipura belajar banyak dari pengalaman buruk Sriwijaya FC yang menjadi lumbung gol lawan-lawannya di AFC Champions League musim 2008/2009 ini. Bagaimanapun juga, Persipura tidak hanya membawa nama klub semata tetapi juga Bangsa dan Negara. Bravo Sepak Bola Indonesia.

Banyak orang bersikukuh, sepak bola (olah raga) harus steril dari segala yang berbau politik. Sepak bola menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas, juara sejati adalah tim yang mengakui kekalahan dengan lapang dada. Sementara politik, dianggap ‘kotor,’ ‘penuh intrik’ dan ‘tipu daya’. Dua hal yang diyakini bertolak belakang sama sekali. Benarkah?. Sejarah kelahiran dan perkembangan klub-klub besar sepak bola di Eropa tidak pernah lepas dari motif politik di dalamnya.Tengoklah sejarah kelahiran Liverpool, Manchester United dan beberapa klub lainnya di Inggris. Pun dengan klub-klub di Italia, Spanyol dan Amerika Latin.

Sejarah kelahiran dan perjalanan klub-klub ini kental dengan motif politik. Ideologi dan pertentangan kelas, khususnya antara kelas borjuis dan proletar, yang memang masih kental pada akhir abad ke 19. Situasi politik dan pertentangan antar kelas-kelas sosial pada waktu itu sangat kuat. Hal ini kemudian, baik secara langsung maupun tidak, menjadi faktor pendorong kelahiran sebuah klub. Klub Manchester United misalnya, menjadi ajang pembuktian dan bentuk eksistensi kaum proletar yang tinggal di pinggiran kota Menchester terhadap klub Manchester City yang di sokong kelas Borjuis. Demikian pula dengan sejarah kelahiran dan perjalanan Liverpool yang kental dengan eksistensi kaum buruh di kota pelabuhan Liverpool.

Potret yang sama akan kita temukan ketika menyusuri sejarah perjalanan Klub Catalan, Barcelona, di Tanah Andalusia. Barcelona yang mayoritas didiami etnis Catalan bahkan masih mengobarkan perjuangan kemerdekaan politik hingga saat ini. Klub Barcelona tidak adalah sayap perjuangan dan eksistensi etnis ini vis a vis Real Madrid yang mewakili kelas Borjuis dan penguasa. Karena itu el classico antara Barcelona dengan Madrid di setiap musim kompetisi La Liga Spanyol bukan hanya sebuah pertarungan adu gengsi antara dua kliub penguasa La Liga, tetapi lebih dari itu merupakan pertarungan politik dan eksistensi, harga diri dan naionalisme Catalan. Periode rezim diktator Jendral Franco menjadi bukti bagaimana atas nama harga diri kekuatan politik di gunakan.

Di belahan selatan Amerika gambaran yang sama ditemukan. Sepanjang sejarah, peradaban di Anak Benua ini tidak pernah lepas dari pertentangan kelas. Hampir seluruh negara di Amerika Latin diwarnai oleh sejarah pertentangan kelas, bahkan hingga saat ini. Dalam konteks politik, di Benua ini pula ideologi dan teologi perjuangan kelas muncul. Amerika Latin menjadi tanah subur persemaian pemikiran, ideologi dan teologi kiri. Pertentangan ini merembet ke ranah dunia sepak bola. Di Argentina misalnya, rivalitas antara dua klub top, Boca Juniors dan River Plate, bukan semata-mata persaingan antar dua klub papan atas demi prestasi. Tetapi lebih dari itu, rivalitas kedua klub ini telah menyentuh wilayah politik: persaingan antar kelas, kelas proletar yang di wakili Boca Juniors dengan kelas Borjuis yang diwakili River Plate.

Bagimana dengan nuansa sepak bola Negeri Pizza, asal usul strategi bertahan catenaccio?. Sejarah membuktikan persaingan ideologi ternyata tidak luput juga dari sejarah sepak bola di klub ini. Telah menjadi bagian sejarah, daerah selatan Italia lebih miskin dan tertinggal di bandingkan daerah utara yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, pusat pemerintahan dan pusat mode. Tak heran, praktek mafioso tumbuh subur di daerah selatan. Bahkan imigran banyak berasal dari daerah ini. Disparitas ini berlanjut pada persaingan di lapangan hijau. Klub-klub selatan yang di wakili Napoli sempat berbangga ketika mampu mendobrak hegemoni klub-klub utara yang glamour ketika di perkuat Diego Maradona. Nuansa persaingan ideologi dan perlawanan kelas toh tidak hilang hingga saat ini.

Lantas, bagaimana dengan di Indonesia?. Menengok sejarah kelahiran klub-klub di Indonesia (yang berawal dari klub perserikatan), potret persaingan seperti di Eropa dan Amerika Latin tidak tergambar. Spirit Nasionalisme terhadap penjajahan lebih kental, meski pada akhirnya lebih di dominasi persaingan yang bersifat primordial sebagai efek klub-klub perserikatan. Namun demikian, apakah tidak ada pengaruh politik sama sekali?. Melihat kondisi sekarang, jawabannya tidak. Dinamika Politik nasional dan politik lokal jelas memberi pengaruh yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Tengok saja, setiap lima tahunan bisa dipastikan kompetisi semrawut dan molor akibat aktivitas kampanye dan tensi politik yang tinggi. Di level lokal, nuansa ‘perselingkuhan’ politik dan sepak bola malah lebih kental. Hitung saja, berapa klub-klub –khususnya eks perserikatan- yang tidak dipimpin oleh Bupati/Walikota dan bahkan keuangannya tergantung APBD. Meskipun perlu penelitian komprehensif dan mendalam, namun logika patron client antara klub dengan penguasa lokal menunjukkan benang merah yang jelas. Pada titik ekstrim, supporter dan klub bisa dimanfaatkan demi keuntungan politik jangka pendek penguasa.

Tentu kita berharap nilai-nilai seperti ini akan hilang seiring semakin tertanamnya spirit profesionalisme di kompetisi sepak bola nasional, apalagi kini telah menyandang nama Liga Super. Kemajuan sepak bola nasional dan di segani di percaturan sepak bola Asia dan Dunia seperti dekade 50-an hingga 70-an masih tetap kita rindukan. Namun kapan semua menjadi kenyataan? Jawabannya ada di atas rumput hijau dan semoga itu tidak lama lagi. Semoga !.

Menyakitkan, menyesakkan ! entah kata apalagi yang tepat untuk menggambarkan kondisi Milan saat ini. Di kandang sendiri, San Siro harus mengakhiri pertandingan dengan kekalahan Atalanta 1-2, tim yang tidak pernah beranjak ke papan atas musim ini. Kekalahan ini tidak saja menampar muka Ancelotti karena peratndingan itu di saksaksikan Sacchi dan Cesare Maldini, tetapi peringatan serius untuk Milanisti agar siap-siap menyaksikan Milan di Kompetii kelas dua Liga Eropa musim depan alias UEFA Cup.

Bagaimana tidak, kekalahan ini alih-alih menipiskan selisih poin dengan Fiorentina, malah membuat Milan melorot ke peringkat 6 kelasemen sementara. Kesuksesan Udinese mengalahkan Fiorentina menjadi biang keladinya sekaligus menaikkan posisi mereka ke peringkat 5 klasemen dan membuka peluang untuk bersaing dengan Fiorentina untuk tiket Liga Champion musim depan.

Melihat prestasi Milan musim ini yang berantakan, ironisnya para petinggi Milan bukan sibuk mencari pemain belakang namun sebaliknya mencari bomber baru. well, jangan sampai penyakit Madrid beberapa musim lalu yang sibuk mengoleksi penyerang dan melupakan pemain bertahan menjangkiti Milan musim transfer nanti. Jik ini terjadi, maka ini menjadi titik balik kemerosotan Milan. Implikasinya bukan tidak mungkin anak emas Milan, Kaka tergiur dengan tawaran tim-tim besar Eropa lainnya- terutama Madrid.

Pengalaman musim 1997-1998 tampaknya tidak menjadi cermin. Masih segar diingatan ketika Milan yang masih diperkuat pemain-pemain gaek semisal Baressi, Sebastiano Rossi, Baggio dan Boban di bantai Juventus di San Siro.

Sudah waktunya milan melakukan Revolusi. ukan hanya pemain, tetapi juga skema permainan dan bila perlu pelatih.

Next Page »